Artikel

Berita

Beasiswa dan Lomba

Recent Posts

Open Recruitment Assistant Lab OTK/Kimia Organik

20.22.00 Add Comment

[👩‍🔬OPEN RECRUITMENT ASSISTANT LAB OTK/KIMIA ORGANIK🧑‍🔬]


Hallo Teknik Kimia🙌


Ada info terbaru nih bagi kalian bahwa Lab Kimia Organik dan Lab Operasi Teknik Kimia membuka kesempatan bagi kalian angkatan 2018 untuk mendaftarkan diri menjadi Asisten Lab OTK dan angkatan 2019 untuk menjadi Asisten Kimia Organik.


✍️Save the date✍️

Kamis s.d. Selasa, 29 Juli - 3 Agustus 2021


Link Pendaftaran 

⬇️⬇️⬇️⬇️

https://forms.gle/T4bSM9JqYKpeRVMP8 

(dapat diakses menggunakan email @untirta.ac.id)


Pengisian formulir pendaftaran dapat diunduh pada tautan berikut :


🔹Formulir OTK

https://bit.ly/2UX9EtG


🔹Formulir Kimia Organik

https://bit.ly/3rNeANR


Segera daftarkan diri ya dan jangan sampai ketinggalan😆


_______

Our social media:


Website: http://himatemiauntirta.com

Facebook: http://fb.com/himatemiauntirta

Instagram: himatemia_untirta

OA Line: @vik7460i

Twitter: @himatemia_ft


#HimatemiaBERAKSI

#HimatemiaGO

Varian Baru Virus Covid-19 Dan Pencegahannya

16.03.00 Add Comment


Varian Baru Virus Covid-19 Dan Pencegahannya

Pandemi di seluruh dunia belum berakhir. Kasus positif COVID-19 pun terus bertambah di Indonesia tapi virus COVID-19 semakin menyeramkan. Apalagi sejak munculnya varian baru COVID-19 yang dikenal dengan varian Delta (B.1.617.2).

Varian Delta menjadi varian yang menarik perhatian seluruh dunia karena memiliki kemampuan penularan yang cepat yaitu melalui kontak langsung dengan durasi sekitar 5-10 detik dan menyebabkan penderitanya mengalami gejala yang lebih parah.

Varian ini ditemukan pertama kali di India dan kini telah menyebar ke seluruh dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa varian Delta sudah menginfeksi lebih dari 80 negara dan terus bemutasi saat penyebaannya. Abdul Ghafur, salah satu dokter di India mengatakan, “Tahun lalu, kami pikir kami telah belajar tentang musuh baru kami (COVID-19), tetapi itu berubah. Virus ini telah menjadi sangat tidak terduga”

Gejala yang ditimbulkan akibat varian Delta mirip dengan COVID-19 tetapi lebih parah dan lebih sulit untuk ditangani. Varian ini dapat menginfeksi semua umur, dari anak-anak hingga dewasa dengan gejala yang ditimbulkan antara lain: gangguan saluran pernapasan, gangguan saluran pencernaan, pilek, batuk, demam, sakit kepala.

WHO pun menghimbau kepada semua orang yang telah melakukan vaksinasi untuk tetap menggunakan masker dan menjalankan protokol kesehatan. Baru-baru ini, Satgas COVID-19 meminta masyarakat untuk menggunakan masker double saat berada di luar rumah. Masker double yang dimaksud bukanlah masker medis dilapisi dengan masker medis lagi melainkan masker medis yang dilapisi dengan masker kain 2-3 layer.

Masker medis dapat menyaring sekitar 80-85% partikel yang dihirup serta melindungi hidung dan mulut agar tidak terkena droplets yang bisa membawa kuman. Sementara, masker kain dapat memberikan perlindungan sekitar 50-70%.  Namun pemakaiannya dianjurkan hanya 4 jam saja sehingga disarankan membawa masker cadangan. Saat masker medis dilapisi dengan masker kain 2-3 layer akan meningkatkan perlindungan hingga 96,4%.

Pemakaian masker medis biasanya masih terdapat celah di area atas (pipi dan hidung) sehingga memungkinkan droplets masih dapat masuk sedangkan masker kain umumnya dapat diatur kekencangannya dan pas di wajah sehingga kombinasi masker medis dan masker kain bisa memberikan perlindungan yang lebih baik.

Penggunaan masker medis yang dilapisi masker medis lagi dengan tujuan akan memberikan perlindungan yang lebih baik itu adalah salah. Karena tidak semua jenis masker dapat dirangkap, contohnya masker KN95 dan N95. Masker N95 sudah dibuat sesuai standar untuk menyaring dengan kemampuannya sekitar 95%. Meskipun begitu, untuk sementara ini penggunaan masker double tidak direkomendasikan untuk anak-anak karena akan membuatnya sulit bernapas.

Tata Cara Penggunaan Masker Double

1. Gunakan masker medis sebagai lapisan pertama.

2. Pastikan kawat tipis yang terdapat di bagian atas masker medis ditekan ke arah wajah, sehingga bentuknya mengikuti bentuk hidung Anda.

3. Lapisi masker medis dengan masker kain 3 layer.

4. Pakailah masker kain yang ukurannya pas. Pastikan tali atau karet masker kain dikaitkan dengan baik pada telinga atau diikat di bagian belakang kepala.

5. Coba hembuskan napas dan rasakan apakah masih ada udara yang mengalir dari sisi atas dan sisi samping masker. Bila masih ada aliran udara, atur kembali posisi dan kekencangan masker.

6. Pastikan tetap bisa bernapas dengan nyaman dan tidak merasa pusing atau berkunang-kunang karena pemakaian masker doubel ini.

Layaknya menggunakan masker biasa, masker medis harus dibuang setelah sekali pakai, meski ditutupi oleh masker kain. Sementara itu, masker kain masih bisa digunakan kembali, tetapi harus dicuci terlebih dulu sampai bersih.

Sebelum menerapkan penggunaan masker double, sebaiknya kita perlu memperhatikan hal-hal berikut:

1. Jika menggunakan masker double membuat kita terlalu sulit untuk bernapas, maka berhentilah menggunakan dua masker. Apabila tidak masalah dalam bernapas, upayakan memakai dua masker.

2. Jika menggunakan masker tambahan bisa menghalangi penglihatan (terutama bagi mereka yang berkacamata), maka kita perlu menghentikan praktik ini atau mencoba menemukan jenis masker lain agar penglihatan tidak lagi terganggu. Sebab, penglihatan yang terganggu dapat menimbulkan bahaya bagi seseorang, misalnya risiko terjatuh atau cedera.

Konsumsi makanan yang bergizi dan tetap patuhi protokol kesehatan dapat menjadi langkah dalam pencegahan terpaparnya virus COVID-19.


Sumber:

https://www.kompas.com/tren/read/2021/06/27/112600865/alasan-kenapa-kita-disarankan-pakai-dua-lapis-masker-atau-masker-dobel?page=all

https://www.kompas.com/sains/read/2021/06/27/130300223/masker-dobel-itu-bukan-pakai-2-masker-bedah-begini-cara-pakainya?page=all

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5620708/gejala-corona-varian-delta-yang-dianggap-mampu-menular-dengan-berpapasa

https://kesehatan.kontan.co.id/news/10-gejala-terinfeksi-covid-19-varian-delta-termasuk-pada-anak?page=all